Kejang Demam atau Epilepsi?
HABBAT`S SEHAT + PRIMASAUDA PLUS = SANGAT AMPUH MENCEGAH DAN MENGOBATI EPILEPSI
PRIMA SAUDA PLUS RACIKAN RAHASIA DAN TEPAT HABBATUSSAUDA + TEMULAWAK + SAMBILOTO + UMBI DAUN DEWA INSYA ALLAH SEGALA MACAM PENYAKIT BISA DIOBATI. AMIN.
HABBATUSSAUDA OBAT SEGALA MACAM PENYAKIT KECUALI KEMATIAN (HR. BUKHARI - MUSLIM) MADU OBAT YANG MENYEMBUHKAN BAGI MANUSIA (QS: AN-NAHL: 69)
KONSULTASI DAN PEMESANAN HUB BIN MUHSIN DI HP: 085227044550 / 021-91913103 email / YM: binmuhsin_group@yahoo.co.id
===
By Republika Newsroom
Kamis, 20 Agustus 2009 pukul 11:20:00
TANYA:
Assalamualaikum wr.wb. Yth dr. Handrawan, anak saya yang keempat seorang laki-laki sekarang brusia 9 tahun, mengalami penyakit kejang demam atau Fibrel Seizure berdasarkan hasil diagnose terakhir dari Dr. Phuah R.S Month Elizabeth. Dengan kronologisnya sebagai berikut:
Sejak usia 3 tahun anak saya, jika mengalami panas tinggi akan mengalami step/kejang. Jika ini terjadi saya bawa ke RS atau kelinik terdekat dan oleh Dokter biasanya diberi oksigen dan obat penurun panas. Saat dia berusia 6 tahun, saya meminta bantuan/nasehat kepada salah seorang Dokter yang menjabat Kepala Dinas di Bogor.
Oleh dokter tersebut direkomendasikan agar dibawa ke Dokter Spesialis Anak yang juga di Bogor. Pada bulan Maret 2006 saya bawa anak saya ke dokter tersebut dan oleh Dokter Anak tersebut setelah memeriksa anak saya dan menginterview saya, diberinya pengantar supaya di bawa ke Rumah Sakit Ibu dan Anak untuk ditangani oleh dokter Specialis Syaraf anak.
Oleh Dokter ahli Syaraf anak tersebut, anak saya di diagnose menderita epilepsi (ini tercatat di buku catatan medis anak saya), padahal saat itu sang Dokter belum meminta kami untuk melakukan pemeriksaan EEG dan CT Scan atas anak kami tersebut. Tampaknya kesimpulan diagnosa epilepsi sepertinya hanya didasarkan pada interview sang dokter kepada saya dan memeriksa secara fisik anak saya tersebut,
Selanjutnya oleh Dokter Ahli Syaraf Anak tersebut, anak saya diberi obat Depakene dengan dosage 2 kalisehari 5 cc, pagi dan malam. Bahwa selama dua tahun meminum obat tersebut dan kontrol rutin setiap 1 atau 2 bulan, anak kami tidak kambuh lagi kejangnya karena dia tidak pernah mengalami panas tinggi.
Namun, pada bulan April 2008, sang Dokter menurunkan dosis obat Depakene tersebut dari 5 cc 2 kali sehari,menjadi 3 cc 2 kali sehari, anak saya sempat terserang kejang lagi saat panas, dan saya laporkan hal itu kepada Dokter Ahli syaraf tersebut, namun oleh Dokter dosage obatnya diturunkan lagi menjadi 1,5 cc hanya malam saja.
Sejak saat itu anak saya rentan sekali terkena kejang, jika panas, (padahal dahulu tidak serentan ini). Pada bulan Juli 2008 anak saya terserang lagi kejang saat dia terkena radang tenggorok dan diopname di RS Ibu dan Anak di Depok selama satu minggu dan ditangani oleh Dokter Syaraf Anak, dan oleh Dokter tersebut diminta untuk dilakukan pemerikaan CT Scan dan EEG di rumah sakit yang cukup terkenal di Jakarta selatan, dan hasil Ct Scan dan EEG-nya tidak ditemukan kelainan.
Namun sang Dokter memberikan obat Topamax Sprinkle 15 Mg diminum 2 kali sehari, ternyata obat tersebut tidak ada pengaruhnya, bahkan yang menyedihkan, waktu kita tanya ada apa/penyakit apa yang diderita anak saya dan apa ada temuan dari pemeriksaan CT Scan dan EEG, dokter tersebut malah marah dan mengeluarkan kata-kata yang tidak enak
didengar. Sepertinya dalam mendiagnosa Dokter Ahli ini merujuk kepada diagnosa yang dibuat oleh Dokter Ahli Syaraf yang Pertama yang dari RS Ibu dan Anak Bogor.
Akhirnya setelah melalui searching di Internet saya membawa anak saya ke R.S Month Elizabeth dan disana ditangani oleh Dr. Phuah Huan Kee, dimana setelah dilakukan pemeriksaan fisik, wawancara dengan saya dan isteri, pemeriksaan EEG dan MRI anak saya didiagnosa bukan penderita epilepsy, melainkan Fibrel Seizure.
Sedikit tambahan, hasil EEG pertama bulan April 2006 normal begitupun EEG ke 2 (juli 2008) dan ke 3 (April 2009) juga normal, sedangkan hasil CT Scan pertama April 2006 ditemukan Lesi hypodence pada Occipital Kanan (slice 5), Ct Scan ke 2 (juli 2008) normal/tidak ditemukan kelainan dan hasil MRI di Singapura juga tidak ditemukan bukti epilepsy.
Dokter Handrawan yang terhormat, gara-gara didiagnosa menderita Epilepsi, hubungan saya dengan isteri menjadi terganggu dan kami saling curiga siapa yang mempunyai keturunan epilepsi.
Pertanyaan saya, dalam bulan ini dan bulan lalu anak saya mengalami demam 2 kali dan saat suhu tubuhnya tinggi 38, + dia sempat kejang, tapi sekitar 5 detik sadar kembali, mengapa ini masih terjadi ?
Apa yang harus saya lakukan dan kemana lagi harus saya bawa anak saya ini? Atas jawaban Dokter saya ucapkan terimakasih dan saya sangat berharap dokter berkenan memberikan jawaban yang selengkapnya. Wassalamu’alaikum wr.wb
Muhammad Yusuf --muhxxxxxxxxxxxx@xxxxxxx.xx.id
JAWAB :
Assalamualaikum wr.wb. Membaca riwayat penyakit, pemeriksaan yang pernah dilakukan, dan obat yang diberikan, hemat saya memang ada kelainan di bagian otak. Ada bagian yang rusak (hypodense) pada wilayah otak tertentu. Bagian inilah yang menjadi titik pemicu serangan kejang (seizure). Maka dokter Singapura mendiagnosisnya sebagai "kejang demam" (febrile convulsion), karena tidak tampak kelainan pada EEG maupun CT Scan yang menunjuk kepada suatu jenis epilepsi yang spesifik.
Kita tahu, epilepsi terjadi apabila ada lepas muatan listrik otak yang muncul tiba-tiba, dan berulang sehingga menimbulkan jenis kejang-kejang yang khas. Itu artinya ada bagian otak yang rusak. Kerusakan bisa karena memang bawaannya sudah begitu pada bagian tertentu otak, atau sebagai akibat dari hal bukan sebab bawaan, seperti apabila otak kekurangan zat oksigen, pernah terinfeksi, ada tumor, atau pernah stroke.
Berbeda halnya dengan kejang demam. Jenis kejang ini bukan sebab lepas muatan listrik otak seperti ayan. Kejang yang terpicu oleh hadirnya demam, dan kejangnya tidak khas seperti ayan.
Kejang demam umumnya sembuh sendiri setelah anak berumur 6 tahun. Bila setelah umur 6 tahun anak tetap masih kejang, ada kemungkinan akan menderita suatu epilepsi (epilepsy trigger by fever).
Pada kasus anak Anda, saya kira, oleh karena pemicu kejangnya benar demam, maka selalu harus siaga setiap kali demam datang. Di rumah selalu sedia obat antidemam yang diracik dengan antikejangnya.
Obat langsung diberikan begitu anak mulai demam. Bahkan tak perlu menunggu sampai suhu tubuh meningkat. Sebelum demam meningkat, obat langsung diberikan. Maksudnya agar kejang dapat dibatalkan. Mengapa? Oleh karena setiap kali terserang kejang, sejumlah sel otak akan mati. Makin sering kejang terjadi, makin berkurang kapasitas otak. Dan itu tidak boleh terjadi.
Saran saya minta dokter membuatkan obat antidemam yang diracik antikejang. Pola dan gaya hidup anak perlu lebih tertib dalam segala hal. Jadwal makan, tidur, jeda, dan tidak terlampau letih.
Hilangkan stigma bahwa anak Anda seorang epilepsi, bukan saja karena sebetulnya epilepsi itu bukan suatu aib. Epilepsi bukan karena kutukan atau apa lainnya. Ia penyakit yang sama dengan penyakit lainnya. Dan anak perlu sugesti kuat, mendapat rasa percaya diri besar, dan sekaligus mengubah mindsetnya. Apa pun penyakitnya, ia bisa sama berpestasi dengan anak lain yang tidak memiliki penyakit itu. Wassalamualaikum wr.wb.
dr Handrawan Nadesul
.jpg)
0 komentar: to “ Kejang Demam atau Epilepsi? ”
Poskan Komentar